Mataram, 20 Agustus 2026 — Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus lalu meninggalkan luka yang dalam. Puluhan nyawa melayang, ribuan warga terpaksa mengungsi, dan sejumlah kabupaten seperti Manggarai dan Manggarai Timur harus menanggung kerusakan paling parah. Namun dari duka itu, muncul pula gerak solidaritas yang datang dari tempat yang tak terduga: kampus Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram, di ujung barat Nusa Tenggara.
Sebanyak 24 lembaga kemahasiswaan di fakultas ini memutuskan untuk bergerak bersama, melebur dalam satu wadah yang mereka namai Aliansi FHISIP UNRAM Peduli.
Sore ini, pukul 16.00 hingga 17.30 WITA, aksi penggalangan dana digelar serentak di empat titik lampu merah Kota Mataram: Kebon Roek, Sweta, Selagalas, dan Panaraga. Ini baru hari pertama dari dua hari aksi yang direncanakan, Kamis hingga Jumat, 20-21 Agustus 2026.
*Ketika Sekat Antar Lembaga Dikesampingkan*
Di lingkungan kampus, sekat antar organisasi mahasiswa biasanya cukup terasa. BEM berjalan dengan agenda dan birokrasinya sendiri, DPM sibuk dengan fungsi pengawasannya, himpunan program studi lebih fokus ke urusan internal jurusan masing-masing. Tapi kali ini berbeda. Ketika kabar duka dari Flores sampai ke Lombok, hampir semua elemen kemahasiswaan FHISIP memilih turun bersama.
Susunan lembaga yang bergabung terbilang lengkap: BEM FHISIP sebagai penggerak konsolidasi, DPM FHISIP yang mengawal transparansi dana, UKF FHISIP dengan jaringan minat-bakatnya, himpunan mahasiswa program studi se-FHISIP, BSO FHISIP, Paguyuban FHISIP, Paguyuban UNRAM, sampai Program Awarding Beasiswa PLN UNRAM. Semuanya turun bersama dalam satu barisan.
Bukan hal yang mudah menyatukan 24 lembaga dengan struktur dan kepentingan yang berbeda-beda. Tapi urusan kemanusiaan rupanya mampu mengesampingkan itu semua.
*"Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Pelukan Hangat"*
Ketua BEM FHISIP UNRAM periode 2026, Nanang Wahyu Wirajuna, menjelaskan bahwa aksi ini lahir dari rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama anak bangsa.
_"Sebagai sesama anak bangsa yang pernah merasakan pahitnya luka akibat bencana, Aliansi FHISIP UNRAM Peduli bersama 24 lembaga hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi membawa pelukan hangat dan harapan agar bumi Flobamora di NTT bisa kembali berdiri tegak,"_ ujarnya.
Kalimat itu terasa pas dengan situasi yang sedang dihadapi NTT saat ini. Ribuan pengungsi masih kekurangan air bersih, logistik pangan, dan fasilitas sanitasi yang layak, sementara pemerintah pusat, TNI, hingga berbagai lembaga kemanusiaan terus mengirim bantuan ke wilayah terdampak. Di tengah itu semua, gerakan kecil dari mahasiswa Lombok ini menjadi salah satu titik cahaya yang datang dari kejauhan.
*Hari Pertama, Rp18,5 Juta Terkumpul*
Hasilnya cukup menggembirakan. Pada hari pertama saja, Aliansi FHISIP UNRAM Peduli berhasil mengumpulkan dana Rp18,5 juta dari empat titik lampu merah tersebut. Angka ini akan terus bertambah esok hari, Jumat (21/8), sebelum seluruh dana direkap dan disalurkan kepada korban gempa di NTT.
_"Kami Optimis kalau hasil galang dana Aliansi FHSIP UNRAM Peduli ini akan tembus 30 juta lebih jika direkap dengan hari kedua besok"_
ujar salah satu mahasiswa.
*Tidak Berhenti di Jalanan*
Penggalangan dana di jalan hanyalah salah satu kanal yang dipakai aliansi ini. Selain turun langsung ke titik-titik keramaian kota, mereka juga membuka donasi secara daring dan berkoordinasi dengan lembaga penyalur bantuan, supaya sumbangan yang terkumpul benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan di NTT.
Bagi mahasiswa hukum, ilmu sosial, dan ilmu politik, aksi semacam ini barangkali menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari di ruang kelas perlu juga dibuktikan di lapangan. Dari Lombok, 24 lembaga ini menunjukkan bahwa mereka tidak tinggal diam melihat saudara sebangsa berjuang menghadapi bencana.
