WARTA NUSANTARA INDONESIA | Lombok Timur, 22 Juli 2026 – Nama Ummuna Al-Mujahidah Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid merupakan salah satu figur penting dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Wathan (NW) setelah wafatnya pendiri organisasi, Al-Maghfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pada tahun 1997. Sebagai putri dari pendiri Nahdlatul Wathan, Ummuna tumbuh dalam lingkungan pendidikan, dakwah, dan perjuangan yang dibangun langsung oleh ayahandanya, sehingga memahami secara mendalam nilai-nilai, visi, dan cita-cita organisasi.
Tonggak sejarah penting terjadi pada Muktamar X Nahdlatul Wathan tahun 1998 di Praya, Lombok Tengah, ketika Ummuna Al-Mujahidah terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PB NW). Terpilihnya beliau menjadi catatan bersejarah karena menjadikannya perempuan pertama yang memimpin organisasi Islam terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kepemimpinannya dipandang sebagai kelanjutan estafet perjuangan Maulana Syaikh dalam menjaga keberlangsungan organisasi di tengah berbagai dinamika yang dihadapi saat itu.
Selama memimpin Nahdlatul Wathan, Ummuna memfokuskan perhatian pada penguatan tiga pilar utama organisasi, yakni pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Berbagai madrasah, pondok pesantren, majelis taklim, dan lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan terus dibina agar tetap menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak, serta kaderisasi generasi penerus umat. Di bawah kepemimpinannya, jaringan lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan terus berkembang di berbagai daerah di Indonesia.
Selain memimpin organisasi induk, Ummuna juga memiliki peran besar dalam pemberdayaan kaum perempuan melalui Muslimat Nahdlatul Wathan. Beliau dikenal sebagai Ketua pertama Pengurus Wilayah Muslimat NW Provinsi Nusa Tenggara Barat yang aktif mendorong peningkatan kapasitas perempuan dalam bidang pendidikan, dakwah, serta pengabdian kepada masyarakat dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
Dalam bidang pendidikan, Ummuna turut membina dan mengembangkan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan Anjani sebagai salah satu pusat kaderisasi ulama, guru, dan dai. Pesantren tersebut menjadi bagian dari upaya melanjutkan cita-cita Maulana Syaikh dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki semangat pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.
Aktivitas dakwah juga menjadi perhatian utama beliau. Melalui pengajian, silaturahmi, pembinaan jamaah, dan pengarahan kepada pengurus Nahdlatul Wathan di berbagai daerah, Ummuna senantiasa mengajak umat untuk menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, memperkuat ukhuwah Islamiyah, menghormati jasa para guru, serta menjaga amanah perjuangan yang diwariskan oleh Maulana Syaikh.
Sebagai tokoh perempuan, Ummuna Al-Mujahidah juga dikenal luas sebagai salah satu pelopor kepemimpinan perempuan dalam organisasi Islam di Lombok. Kiprahnya menjadi inspirasi bagi banyak muslimah untuk berperan aktif dalam dunia pendidikan, dakwah, dan kepemimpinan, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan budaya yang menjadi identitas Nahdlatul Wathan.
Hingga saat ini, Ummuna Al-Mujahidah Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid tetap dihormati sebagai salah satu pewaris perjuangan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dedikasi dan pengabdiannya menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan dakwah, pendidikan, serta pengembangan organisasi Nahdlatul Wathan di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus menjadi teladan bagi generasi penerus dalam melanjutkan perjuangan untuk umat.
Penulis: Rahmatun Sholihah Mardian Syafri Wahyuni
Redaksi: WARTA NUSANTARA INDONESIA
22 Juli 2026
