WARTA NUSANTARA ONLINE | AMBON, – Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Maluku bukan sekadar rutinitas organisasi biasa. Peristiwa ini merupakan momen krusial yang akan menentukan arah dan masa depan partai di wilayah Maluku. Kamis, [26/08/26]
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah:
Siapakah sosok yang benar-benar memiliki integritas, pengalaman, dan ketahanan mental untuk membawa Partai Demokrat Maluku menuju era baru?
Nama Muhamad Thaher Hanubun muncul sebagai kandidat yang sangat layak diperhitungkan.
Alasannya bukan semata-mata karena popularitas atau ambisi politik sesaat.
Melainkan karena Hanubun telah membuktikan kapabilitas kepemimpinannya melalui rekam jejak nyata.
Pengalaman memimpin Kabupaten Maluku Tenggara selama dua periode menjadi bukti konkret. Ia telah terbiasa mengambil keputusan strategis, menangani isu pembangunan, berdialog dengan berbagai lapisan masyarakat, serta mengelola tantangan khas wilayah kepulauan.
Inilah aset terbesar yang dimiliki Hanubun.
Posisi Ketua DPD Demokrat Maluku memerlukan lebih dari sekadar kemampuan retorika politik. Seorang ketua partai dituntut mampu mengonsolidasi kader, memperkuat komunikasi antar-daerah, menguatkan struktur organisasi, dan memastikan partai tetap relevan di mata masyarakat.
Maluku membutuhkan pemimpin partai yang menyadari bahwa fondasi kekuatan politik tidak hanya bertumpu pada elit pusat.
Kekuatan sejati partai justru lahir dari akar rumput.
Dari para kader.
Dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC).
Dari tingkat ranting.
Dari interaksi langsung dengan masyarakat.
Dan dari kerja-kerja politik yang dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat musim pemilu tiba.
HANUBUN DAN BEKAL KEPEMIMPINAN YANG MATANG
Dua periode kepemimpinan di Maluku Tenggara memberikan Hanubun perspektif yang sangat relevan untuk bersaing dalam jabatan Ketua DPD Demokrat Maluku.
Ia mengerti dinamika sosial masyarakat kepulauan.
Ia paham bagaimana menyeimbangkan kepentingan antar-wilayah.
Ia menyadari bahwa pelayanan publik dan pembangunan memerlukan komunikasi efektif serta keberanian dalam mengambil kebijakan.
Pengalaman praktis ini merupakan modal berharga untuk mengelola organisasi sebesar Partai Demokrat di Maluku.
Mengingat Maluku bukan hanya Ambon.
Maluku mencakup Buru, Seram, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, Tual, dan berbagai wilayah lain dengan karakteristik unik.
Oleh karena itu, Partai Demokrat memerlukan figur yang mampu memandang Maluku secara holistik.
Bukan berdasarkan kepentingan satu daerah saja, tetapi membangun kekuatan partai yang merata di seluruh wilayah.
Di sinilah relevansi pengalaman Hanubun menjadi sangat kuat.
MENUJU ERA BARU DEMOKRAT MALUKU
Musda harus dimaknai sebagai momentum regenerasi yang substansial.
Regenerasi bukan sekadar pergantian nama pemimpin.
Regenerasi berarti menghadirkan semangat baru, ide-ide segar, keterbukaan dalam komunikasi politik, serta tekad untuk memperkuat basis organisasi.
Partai Demokrat Maluku membutuhkan pemimpin yang inklusif.
Pemimpin yang tidak membiarkan perbedaan pilihan menjadi sumber perpecahan kader.
Pemimpin yang mampu menjadi pemersatu setelah proses kompetisi selesai.
Karena Musda hanya berlangsung sebentar.
Sementara tugas membesarkan partai adalah pekerjaan jangka panjang.
Maka, indikator keberhasilan seorang calon ketua bukan hanya pada kemampuannya memenangkan Musda, tetapi pada kemampuannya membangun partai pasca-Musda.
Ini adalah pertanyaan kunci bagi seluruh elemen Partai Demokrat Maluku.
Siapa yang mampu memperkuat DPC?
Siapa yang dapat mencetak kader-kader berkualitas?
Siapa yang bisa menjembatani komunikasi lintas wilayah?
Siapa yang mampu mendekatkan partai dengan rakyat?
Dan siapa yang memiliki kapasitas kepemimpinan untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut?
Muhamad Thaher Hanubun memiliki rekam jejak yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
LEBIH DARI SEKADAR MENCARI KETUA, INI SOAL MENCARI PEMIMPIN
Partai Demokrat Maluku tidak butuh figur yang hanya kuat saat kampanye Musda.
Partai membutuhkan pemimpin yang tangguh setelah Musda berakhir.
Pemimpin yang tetap bekerja keras ketika sorotan media redup.
Pemimpin yang menjaga solidaritas di tengah benturan kepentingan politik.
Pemimpin yang turun ke lapangan meski tidak ada agenda elektoral.
Dan pemimpin yang mampu mengubah pengalaman politiknya menjadi kekuatan organisasi yang solid.
Dalam konteks inilah, Muhamad Thaher Hanubun pantas dipertimbangkan secara serius.
Ia telah melewati ujian panjang dalam dunia politik dan pemerintahan.
Ia telah terbukti mampu memimpin sebuah wilayah.
Ia memahami nuansa masyarakat kepulauan.
Dan ia memiliki pengalaman yang dapat dijadikan modal untuk membangun konsolidasi lintas daerah.
Tentu saja, keputusan final tetap berada di tangan mekanisme internal Partai Demokrat.
Setiap kader berhak berkompetisi dan menawarkan visi terbaiknya.
Namun, kompetisi yang sehat harus bermuara pada satu tujuan mulia:
memperbesar dan memperkuat Partai Demokrat Maluku.
Jadi, Musda bukan waktu untuk sekadar menghitung suara pendukung.
Musda adalah momen untuk menilai kesiapan seseorang memikul amanah kepemimpinan.
Jika parameter yang digunakan adalah pengalaman, kapasitas, ketangguhan, serta pemahaman mendalam terhadap karakter masyarakat Maluku, maka MUHAMAD THAHER HANUBUN TELAH TERBUKTI LAYAK dan berada di garis depan kandidat yang patut diperhitungkan.
Partai Demokrat Maluku memerlukan jalan baru.
Jalan baru menuntut energi baru.
Jalan baru meminta keberanian baru.
Dan jalan baru membutuhkan kepemimpinan yang sudah teruji.
MUHAMAD THAHER HANUBUN ADALAH FIGUR YANG TERUJI.
Sekarang saatnya rekam jejak, kapasitas, dan gagasannya dinilai secara objektif dalam proses menuju Musda Partai Demokrat Maluku.
Bukan sekadar mencari pemenang.
Tetapi mencari pemimpin yang siap bertugas.
Editor : Thony Pohwain
